“Aku yakin buah anggur itu masam.”

1 Comment

Pada suatu hari di musim panas, seekor Rubah berjalan-jalan melalui sebuah kebun buah-buahan. Ia melihat setandan buah Anggur yang sudah masak di pohon anggur. “Buah yang cocok untuk memuaskan dahagaku,” katanya. Sambil mundur beberapa langkah, ia berlari dan melompat ke arah buah anggur, tetapi gagal. Setelah mundur beberapa langkah, ia berlari lebih cepat dan melompat lagi. Masih gagal. Ia melompat berkali-kali sampai akhirnya menyerah karena kelelahan.
More

The War for Talent

Leave a comment

talent

Keberhasilan perusahaan secara berkelanjutan sangat ditentukan sejauh mana mereka mengelola karyawan potensial (talent management). Sayangnya, masih banyak perusahaan yang memandang enteng masalah ini. Bagaimana rahasia sukses sebuah talent management?

Judul tulisan ini memang sama persis dengan judul buku yang ditulis oleh trio konsultan McKinsey & Company Ed Michaels, Helen Handfield-Jones, dan Beth Axelrod, The War for Talent (Harvard Business School Press 2001). Buku ini merupakan salah satu bacaan wajib di dalam memahami dan menyusun manajemen karyawan potensial atau sering juga disebut talent management. Kesamaan judul ini semata-mata didasari karena kami sangat setuju terhadap pandangan ketiga penulis tersebut. Bahwa karyawan potensial sangat menentukan keberhasilan perusahaan untuk jangka waktu yang panjang. Itu sebabnya, perusahaan terkemuka berlomba mengelola dan, bahkan, memperebutkan karyawan potensial. “Perang” pun tak terhindarkan.
More

Gandhi, Anak Kecil, dan Gula

Leave a comment

Smahatma-gandhi-indian-herouatu kali, seorang ibu melakukan perjalanan berhari-hari–dengan kereta api, dengan becak, dengan bus, dan dengan berjalan kaki–untuk membawa anak laki-lakinya yang masih kecil kepada Mahatma Gandhi. Ia memohon, “Saya mohon, Mahatma. Suruhlah anak saya berhenti makan gula.”

Gandhi terdiam sesaat. Kemudian ia berkata, “Bawa anak itu ke sini dua minggu lagi.’ Perempuan itu bingung, tapi berterima kasih kepada Gandhi dan mengatakan bahwa ia akan melakukan apa yang telah Gandhi katakan. Perempuan itu pun kembali ke desanya.

Dua minggu kemudian, More

Gadis Sunda & Laki-laki Jawa

247 Comments

Pada suatu kesempatan saya berbincang-bincang dengan beberapa teman saya dan mengutarakan niat saya untuk memperistri gadis Sunda. Mendengar penuturan saya tersebut hampir semua teman saya (kebetulan semuanya berasal dari suku Jawa) secara spontan menyatakan ketidaksetujuannya. Alasan yang diberikan hampir seragam: perempuan Sunda adalah tipe perempuan yang matre.

Jika anda perhatikan, alasan yang disampaikan adalah alasan sepihak yang memojokkan perempuan Sunda. Selidik punya selidik ternyata apa yang teman-teman saya ungkapkan adalah ekspresi kekecewaan terhadap sebuah pengetahuan umum berupa keengganan perempuan Sunda untuk diperistri oleh lelaki Jawa. Jadi, ketika kebanyakan perempuan Sunda menolak untuk dinikahi oleh lelaki Jawa maka orang Jawa, karena merasa diremehkan, memunculkan mitos bahwa perempuan Sunda adalah tipe perempuan yang mata duitan. More

“GURU”

1 Comment

Sebuah skenario disadur dari cerpen Putu Wijaya dengan judul yang sama.

Tokoh-tokoh :

Subianto         : Pengusaha kaya

Saraswati        : Istri Subianto

Ricky                : Anak Subianto

Kusumawati   : Adik Subianto

Gunawan         : Istri Kusumawati

Djunaedi          : Guru miskin

Mirna                : Anak Djunaedi (pacar Ricky)

Slamet              : Teman Ricky

PART 1

Setting:

Sebuah ruang tamu dengan seperangkat meubel mewah milik seorang pengusaha kaya bernama Subianto.

Narasi:

Pada suatu waktu di sebuah kota besar hidup sepasang suami istri yang bernama Subianto dan Saraswati. Keduanya dikarunia anak laki-laki yang saat ini sedang duduk di kelas 3 SMU. Ketenangan keluarga ini terusik setelah Subianto dan sang istri mendengar kabar bahwa anak laki-laki mereka satu-satunya ingin menjadi guru.

Subianto :(Masuk dengan langkah gontai dan muka masam)

Saraswati :(Sedang duduk di kursi ruang tamu sambil membaca majalah)”Pak, habis darimana kok pulang-pulang kelihatannya susah begitu?”

Subianto  :(Duduk di salah satu kursi lain)”Anu, tadi Bapak ketemu Pak Djoko di jalan!”

Saraswati :“Pak Djoko yang mana?”

Subianto  :“Itu bapaknya Slamet, temen sekolah anak kita”.

Saraswati :“Ooh, yang rumahnya depan masjid?!, trus memangnya Pak Djoko ngomong apa sama Bapak, kok Bapak pulang pasang muka masam kayak itu?”

Subianto  :(Sambil menghela napas)”Ini masalah anak kita si Ricky bu!”

Saraswati :“Memangnya ada apa dengan Ricky?”

Subianto  :“Tadi Pak Djoko bilang ke Bapak kalo Ricky pernah cerita sama Slamet kalo dia mau jadi guru”

Saraswati :(Kaget) “Ha, jadi apa? Jadi guru? Nggak salah denger bapak?”

Subianto  :“Nggak, orang tadi Pak Slamet bilangnya gitu kok”

Saraswati :“Ini pasti gara-gara si Mirna pacarnya Ricky, anak guru itu pasti sudah mempengaruhi anak kita supaya ikutan jadi guru kayak bapaknya itu, pokoknya kita besok harus dateng ke kostnya Ricky, Bapak harus mbujuk Ricky supaya mbatalin niatnya jadi guru!”

Subianto  :“Tapi Bapak besok ada pertemuan dengan rekan bisnis bu!”

Saraswati :“Ah nggak ada tapi-tapian, pokoknya besok kita harus ngomong sama Ricky!”(Sambil memungut majalah kemudian pergi ke belakang)

Subianto  :“Lho Bu…Bu…!!!”(Bengong kebingungan)
More

“21”, Judi Pake Otak

Leave a comment

21-movie-poster-kevin-spacey-kate-bosworth

Benjamin Campbell (Jim Sturgess) adalah pemuda jenius berusia 21 tahun yang hampir lulus dari MIT dan akan melanjutkan studinya di Harvard Medical School. Untuk kuliah di Harvard Med-School per tahunnya dibutuhkan biaya 300.000 dollar, hal inilah yang membuat pemuda yatim ini putus asa karena dia tidak punya uang sebanyak itu. Sebenarnya ada jalan lain yaitu mendapatkan beasiswa, akan tetapi Ben tidak pernah melakukan hal yang cukup istimewa (bagi mahasiswa kebanyakan apa yang dicapai oleh Ben sebenarnya adalah luar biasa; misalnya, akan lulus dari MIT dengan GPA 4.0 [bayangkan MIT githu loh!!!]) untuk mendapatkan beasiswa di Harvard Med-School. More

Dia diperkirakan tidak akan bisa berjalan, tetapi sekarang dia tidak berhenti berlari.

Leave a comment

20081001_tows_miraclechildren7_350x263Namanya Cody, usianya 6 tahun. Cody mempunyai mimpi untuk berjalan di upacara pembukaan olimpiade sebagai seorang atlit bintang. Itu adalah cita-cita ambisius dari seorang anak laki-laki yang oleh dokter divonis tidak akan bisa hidup bahkan untuk sekedar melewati hari pertama dimana dia dilahirkan, akan tetapi Cody telah terbiasa untuk menaklukan rintangan yang menghadangnya.

Ketika Cody dilahirkan, kedua orangtuanya, Tina dan Mike, segera mengetahui adanya sesuatu yang tidak beres. “Dokter terdiam tidak mengeluarkan satu patah kata-pun, begitu juga dengan para perawat yang membantu proses persalinan, semuanya termenung membisu,” kata Mike. “Waktu itu saya memperhatikan bahwa kedua kakinya terlihat berbeda–kedua kakinya terlihat tidak lurus sama sekali.” Mike kemudian diberitahu bahwa bayi mereka menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak akan bisa hidup melewati hari pertamanya. “Saat itulah Mike memberitahuku bahwa kami akan berduka cita karena kehilangan anak kami,” kata Tina. More

Older Entries