Sebuah skenario disadur dari cerpen Putu Wijaya dengan judul yang sama.

Tokoh-tokoh :

Subianto         : Pengusaha kaya

Saraswati        : Istri Subianto

Ricky                : Anak Subianto

Kusumawati   : Adik Subianto

Gunawan         : Istri Kusumawati

Djunaedi          : Guru miskin

Mirna                : Anak Djunaedi (pacar Ricky)

Slamet              : Teman Ricky

PART 1

Setting:

Sebuah ruang tamu dengan seperangkat meubel mewah milik seorang pengusaha kaya bernama Subianto.

Narasi:

Pada suatu waktu di sebuah kota besar hidup sepasang suami istri yang bernama Subianto dan Saraswati. Keduanya dikarunia anak laki-laki yang saat ini sedang duduk di kelas 3 SMU. Ketenangan keluarga ini terusik setelah Subianto dan sang istri mendengar kabar bahwa anak laki-laki mereka satu-satunya ingin menjadi guru.

Subianto :(Masuk dengan langkah gontai dan muka masam)

Saraswati :(Sedang duduk di kursi ruang tamu sambil membaca majalah)”Pak, habis darimana kok pulang-pulang kelihatannya susah begitu?”

Subianto  :(Duduk di salah satu kursi lain)”Anu, tadi Bapak ketemu Pak Djoko di jalan!”

Saraswati :“Pak Djoko yang mana?”

Subianto  :“Itu bapaknya Slamet, temen sekolah anak kita”.

Saraswati :“Ooh, yang rumahnya depan masjid?!, trus memangnya Pak Djoko ngomong apa sama Bapak, kok Bapak pulang pasang muka masam kayak itu?”

Subianto  :(Sambil menghela napas)”Ini masalah anak kita si Ricky bu!”

Saraswati :“Memangnya ada apa dengan Ricky?”

Subianto  :“Tadi Pak Djoko bilang ke Bapak kalo Ricky pernah cerita sama Slamet kalo dia mau jadi guru”

Saraswati :(Kaget) “Ha, jadi apa? Jadi guru? Nggak salah denger bapak?”

Subianto  :“Nggak, orang tadi Pak Slamet bilangnya gitu kok”

Saraswati :“Ini pasti gara-gara si Mirna pacarnya Ricky, anak guru itu pasti sudah mempengaruhi anak kita supaya ikutan jadi guru kayak bapaknya itu, pokoknya kita besok harus dateng ke kostnya Ricky, Bapak harus mbujuk Ricky supaya mbatalin niatnya jadi guru!”

Subianto  :“Tapi Bapak besok ada pertemuan dengan rekan bisnis bu!”

Saraswati :“Ah nggak ada tapi-tapian, pokoknya besok kita harus ngomong sama Ricky!”(Sambil memungut majalah kemudian pergi ke belakang)

Subianto  :“Lho Bu…Bu…!!!”(Bengong kebingungan)

PART 2

Setting:

Kamar kost Ricky dengan sebuah kursi dan meja serta sebuah kasur.

Narasi:

Keesokan harinya Subianto dan istri mendatangi tempat kost Ricky untuk membujukknya membatalkan niatnya menjadi guru.

Subianto  : (Langsung masuk tanpa permisi) “Ricky!”

Ricky     : (Membereskan tempat tidur) “Eh bapak, kok nggak ngasih kabar dulu kalo mau datang?, Lho, tumben ibu juga ikutan? Ada gerangan apa nih?” (menyalami keduanya)

Saraswati : (Mengulurkan sebuah bingkisan plastik) “Nih, Ibu bawa’in makanan kesukaanmu!”

Ricky     : (Menerima bungkusan dari tangan ibunya) “Ah ibu tahu aja makasih Bu!”

Subianto  : “Gimana sekolahmu Rik?”

Ricky     : “Bagus Pak’

Subianto  : “Begini Ricky, kami dengar selentingan kalo kamu mau jadi guru? Betul begitu?”

Ricky     : (Mengangguk) “Betul Pak? Memangnya Bapak tahu dari mana?”

Saraswati : “Tidak masalah kami tahu dari mana Ricky, tapi kamu sungguh-sungguh mau jadi guru?”

Ricky     :(Tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun) “Ya suungguh-sungguh lah Bu!, memangnya kenapa? Ibu sama Bapak nggak setuju?”

Subianto  : “Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?’

Ricky     : “Iya, ada yang salah?”

Subianto  : (Saling berpandangan dengan istrinya)

Saraswati : (Dengan menghela napas pergi keluar kamar)

Subianto  : “Ricky, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Kita ini hidup di kota bukan di desa. Dan sekarang ini nih, ya, kita hidup di era milenium ketiga, sekarang jamannya globalisasi, era persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau menjadi guru. Semua guru itu sejatinya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja, ngerti? Setiap kali ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?

Ricky     : “Tapi saya mau jadi guru.”

Subianto  : “Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan yang lain? Kamu tahu hidup guru itu seperti apa? Tugas seabrek, tapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik MERCY. Profesi guru itu susah! Ya kalu kamu diangkat jadi pegawai negeri, kalo nggak?. Cita-cita itu harus tinggi, Rik. Masak mau jadi guru?. Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur saja dia masih utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu ini bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu ini masih muda, otak kamu encer, dan biaya sekolah kamu sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!”

Ricky     : “Sudah saya pikir masak-masak.”

Subianto  : (Terkejut) “Pikirkan sekali lagi! Bapak kasih waktu satu bulan!”

Ricky     : (Menggelengkan kepala) “Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru.”

Subianto  : Tidak! Kamu pikir saja dulu satu-dua bulan lagi!”(Pergi meninggalkan Ricky sendirian)

Narasi:

Ricky pun tertegun sendirian di kamar. Ricky memang sudah menduga kedua orangtuanya tidak akan setuju dengan keinginannya, tetapi dia tidak pernah menyangka akan mendapat reaksi sedemikian kerasnya. Tidak lama kemudian teman sekolahnya Slamet datang mengunjunginya.

Slamet    : “Assalaamu’alaikum?”

Ricky     : “Wa’alaikum salam, Eh Slamet masuk met!” Ada apa nih? Hari gini dateng ke kostku?”

Slamet    : “Nggak, nggak ada apa-apa kok, Cuma iseng aja main. Ngomong-ngomong orang tuamu tadi ke sini ya?”

Ricky     : “Kok tahu?”

Slamet    : “Tadi papasan di jalan pas lagi beli bensin. Bukannya pengen ikut campur urasan orang ya Rik, tapi kok mereka kelihatannya lagi susah gitu, ada pa Rik?

Ricky     : “OOH, orang tuaku nggak setuju kalo aku jadi guru.”

Slamet    : “Memangnya kamu udah kasih tahu mereka kalo kamu pengen jadi guru?”

Ricky     : “Aku sih belum ngasih tahu, tapi mereka bilang mereka dengar kabar dari orang? Ooh, ya, inget aku, pasti kamu cerita sama orang tuamu kalo aku mau jadi guru! Dari situlah mereka tahu aku mau jadi guru, soalnya aku nggak pernah cerita ke siapa-siapa soal ini kecuali ke kamu sama ke Mirna.”

Slamet    : “Sebentar, bener juga ya. Waduh jadi merasa bersalah nih, sorry ya?”

Ricky     : “Nggak apa-apa, cepet atau lambat mereka juga pasti tahu kok.”

Slamet    : “Mereka nanyaina apa aja?”

Ricky     : “Ya, itu tadi, apa bener aku mau jadi guru?”

Slamet    : “Trus, kamu jawab apa?”

Ricky     : “Ya aku terus terang aja sama mereka kalo aku pengen jadi guru.”

Slamet    : “Apa reaksi mereka?”

Ricky     : “Ibuku langsung keluar dengan muka kecewa, kemudian bapakku menceramahiku habis-habisan.”

Slamet    : “Kamu berubah pikiran nggak?”

Ricky     : “Nggak, aku tetep pengen jadi guru! Maju Perut Pantat Mundur!”

Slamet    : “Emang kamu ini keras kepala, tapi nggak apa-apa aku dukung kamu, OK, apa tadi Maju Perut Pantang Mundur?!(Sambil mengepalkan tangan) Udah ya… aku pulang dulu udah sore.”

Ricky     : “Oh, ya..!”

Slamet    : “Assalaamu’alaikum?”

Ricky     : “Wa’alaikum salam.”

PART 3

Setting:

Kamar Kost Ricky

Narasi:

Tepat sebulan setelah Subianto dan Saraswati gagal membujuk anak semata wayang mereka untuk membatalkan keinginannya menjadi jadi guru, mereka datang lagi ke kost Ricky, kali ini mereka tidak sekedar membawakan oleh-oleh makanan kesukaan Ricky, kali ini mereka membawa sebuah hanphone keluaran terbaru berharap Ricky terbujuk membatalkan niatnya jadi guru.

Subianto  : “Assalaamu’alaikum?”

Ricky     : “Wa’alaikum salam, eh..bapak,ibu, masuk!” (menyalami keduanya)

Saraswati : “Rik, nich kami belikan handphone baru buat kamu!”

Ricky     : “Wah, keren banget, ada kameranya lagi, berapa harganya bu?”

Saraswati : “Udah, nggak usah tahu! Gimana kamu pengen tetep jadi guru?”

Ricky     : “Lho, ibu ini gimana sih, kok ditanya lagi sich, kan saya udah bilang kalo saya tetep pengen jadi guru!”

Saraswati : (Naik pitam, berbicara dengan suara meninggi)Ricky!!!!!!!!!! Kamu mau jadi guru pasti karena terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya! Mentang-mentang mereka bilang guru itu pahlawan, guru itu berbakti pada nusa dan bangsa. Ahh… itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?”

Ricky     : (Diam tidak menjawab)

Saraswati : “Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit, tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin orang-orang yang menjadi guru itu sudah puas hanya dengan dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu Ricky, dipuji sedikit saja udah mau kerja rodi membanting tulang. Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu tetep mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya bisa mewarisi jabatan bapaknya. Masak begitu saja kamu tidak nyahok?”

Ricky     : (Tetap diam tak menjawab)

Saraswati : “Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji khan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang kongkret. Yang kongkret itu duit, Ricky. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang materialistis itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu mencari duit, mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit. Duit memang segala-galanya tapi segala-galanya butuh duit, paham?

Ricky     : “Paham, tapi apa salahnya jadi guru?”

Saraswati : (Kehabisan kesabaran) Handphonenya bawa pulang dulu saja pak!. Biar Ricky mikir dulu Pak, kasih waktu dua-tiga bulan lagi, ingat ini soal hidup-matimu sendiri, Ricky!”