rupiah-285Insentif finansial adalah salah satu bentuk hal yang sejak lama dianggap oleh perusahaan bisa meningkatkan motivasi pekerja memberikan job performance yang tinggi.

“Di dunia ini tidak ada yang lebih meruntuhkan moral daripada uang.”

Sopochles, Antigone

“Daya bujuk uang jauh lebih kuat daripada alasan yang logis.”

Euripidies, Medea

Finansial atau keuangan adalah hal yang tidak bisa dihindari jika kita berbicara tentang motivasi seseorang dalam bekerja.

Jadi sudah tiba waktunya untuk berkonfrontasi dengan pertanyaan, “Apakah uang itu suatu motivator?” Jika kita membatasi definisi motivasi itu hanya pada dorongan internal, mestinya jawabannya adalah tidak. Namun, secara praktis, bagi siapa saja yang lebih berkepentingan untuk membangkitkan kinerja daripada kebenaran psikologis, pertanyaan yang lebih penting barangkali berbunyi, “Apakah uang (atau usaha untuk mendapatkannya) memberi semangat kepada pekerja dan memacu mereka ke kinerja yang superior?”

Terdapat dua jawaban yang berbeda dari pertanyaan di atas, ya dan tidak. Perbedaan jawaban tersebut telah berlangsung selama beberapa milenium, berikut penjelasan dari kedua belah pihak:

Pihak yang mendukung jawaban “ya”.

Jika Anda membaca tentang uang dalam jumlah besar yang dibayar oleh organisasi untuk membujuk eksekutif berprofil tinggi guna menduduki kedudukan penting di perusahaan mereka, sulit untuk membantah bahwa uang itu bukan motivator. Tidak ada satupun perusahaan yang bersedia membayar uang sebanyak itu kepada seseorang yang berkata, “Jangan Anda mengkhawatirkan gaji atau bonus atau opsi saham. Saya tidak peduli jika itu tida seberapa besar. Bagi saya yang menarik adalah tantangannya”.

Uang tidak saja berbicara di eselon atas. Berapa kali Anda mendengar seorang karyawan menggumam, “Berikan saja uangnya! Ucapan terima kasih tidak bisa membayar uang konrakan rumah”.

Uang berpengaruh kepada perilaku di pekerjaan disebabkan oleh dua alasan, karena apa yang dapat dibeli dengannya dan karena apa yang disimbolkan olehnya.

  • Apa yang dapat dibeli dengan uang. Jutaan orang di seluruh dunia berusaha keras dalaam pekerjaan yang tidak atau hanya sedikit memberikan imbalan intrinsik, tetapi yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, mendapatkan sandang, pangan, dan papan. Pada tingkatan paling elementer, uang membeli jaminanh yang paling mendasar; Maslow mengenali itu sebagai kebutuhan manusia sementara Herzberg menempatkannya di antara faktor higienenya—sesuatu yang kta butuhkan untuk menolak ketidakpuasan. Bagi siapapun yang tidak dilahirkan sebagi orang yang beruntung, maka bekerja adalah jalan yang diterima oleh umum untuk mendapatkan uang.
  • Apa yang disimbolkan oleh uang. Banyak orang yang membaca uang seperti mereka membaca daun teh. Uang mengungkapkan betapa pentingnya mereka di dalam organisasi tempat mereka bekerja, bagaimana peringkat mereka dibandingkan rekan kerja, kedudukan mereka dalam komunitas dan di kalangan sangat terbatas, prestise mereka di dunia. Bagi mereka uang adalah ukuran bagi bobot pencapaian. Semua hal menyenangkan yang dapat dibeli dengan uang bukan hanya mainan atau barang yang kita sanjung karena milik kita. Semua itu adalah simbil status. Rumah di mana kita tinggal, mobil yang kita kendarai, berlangganan konser, dan peristiwa olah raga, tujuan liburan kita—semua ini bercerita kepada dunia bahwa kita sudah mapan, atau tidak mapan. Mampu memiliki perhiasan yang psestise membuat kita memperoleh awalan yang tepat, undangan yang tepat, dan rasa hormat dari tetangga.

Pihak yang mendukung jawaban “tidak”.

Siapa pun menyepakati bahwa uang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk dapat menerima suatu pekerjaan, khususnya jika orang itu sedang kesulitan mencari pekerjaan sementara tagihan sudah menggunung, atau—di sisi lain—orang itu mendapat tawaran yang secara intrinsik sama menarinya. Uang dapat juga mempengaruhi seseorang untuk meninggalkan suatu pekerjaan dan menerima yang lain. Namun di antara keduanya uang digunakan untuk membuat karyawan bersemangat dan produktif secara konsisten—itulah keterbatasannya jika hanya mengandalkan uang.

“Bagi kebanyakan manajer, memotivasi dengan uang dihadapkan kepada dua rintangan. Rintangan pertama adalah kendali mereka yang terbatas atas imbalan keuangan bagi karyawan. Rintangan kedua adalah bahwa keberhasilan uang sebagai motivator, dalam keadaan terbaik pun tidak menentu”.

Deeprose, D

How to recognize and Reward Emplyees

Hal-hal yang menyebabkan imbalan keuangan kadang kurang efektif untuk memotivasi karyawan:

  • Dampak yang sementara. Ketika seorang karyawan menerima kenaikan gaji, dan kebetulan kenaikannya memuaskan karyawan tersebut, maka pada saat itu dia akan merasakan suatu kenyamanan dan siap memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Beberapa bulan kemudian, karyawan tersebut sudah merasa biasa dengan kenaikan gaji tersebut. Semangat yang mengebu-gebu pun mulai hilang. Itulah kekurangan uang sebagai motivator. Ia dapat meghasilkan suatu semburan kegiatan pendek tetapi dampaknya tidak bertahan lama.
  • Faktor merasa berhak. Dengan berlalunya waktu, gejolak semangat dan energi yang dibangkitkan oleh suatu kenaikan gaji yang baik akan mulai memudar. Hal ini karena apa yang tadi dirsakan sebagai imbalan kini berevolusi menjadi rasa berhak. Jika seseorang merasa apa yang dia dapatkan adalah hak yang harus dia peroleh, maka ia tidak lagi termotivasi untuk melakukan hal lebih guna mndapatkan imbalan tersebut.
  • Tidak pernah cukup. Jika Anda mengelola orang lain, hanya ada satu hal yang pasti yang Anda ketahui tentang uang. Di dalam anggaran Anda tidak pernah ada uang yang cukup untuk membuat semua orang uang. Lalu jika melihat dampaknya dalam jangka pendek, Anda menyadari bahwa mungkin tidak ada cukup uang untuk menjaga agar setiap orang tetap termotivasi. Tidak seperti motivator intrinsik, persediaan uang selalu terbatas.
  • Membunuh kesenangan. Dalam beberapa eksperimennya tentang motivasi, ahli psikologi Edward L. Deci menemukan bahwa membayar orang untuk melakukan suatu tugas menghilangkan kesenangan mengerjakan bagi pelakunya. Mereka yang tidak ia bayar untuk memecahkan teka-teki tetap masih mencoba kendati waktu yang telah disepakati telah lewat. Sebaliknya yang ia bayar untuk melakukan hal tersebut menerima uangnya lalu pergi.

Kehidupan nyata dan eksperimen tidak seratus persen sama. Akan tetapi pelajaran yang dapat diambil adalah Anda mungkin tidak boleh mengharapkan dedikasi yang sama dari orang yang hanya bekerja karena uang, dibandingkan yang dapat Anda peroleh dari orang yang menyenangi pekerjannya dan puas menjadi bagian dari organisasi Anda.

Referensi

Deeprose, Donna. 2006. Smart Things to Konow About Motivation. Jakarta: Elex Media Komputindo